Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Saturday, January 28, 2012

Bangunan & Situs Bersejarah di Sepanjang Krueng Aceh


Hi! Apakabar semua? Masih ingat kalau sebelumnya saya ada post sedikit sneak peek soal Skripsi saya? Tanpa bermaksud mengkambinghitamkan si skripsi, tapi belakangan emang beneran supersibuk sampai akhirnya, here i am, bisa ngepost lagi disini. Skripsinya udah selesai belom ri? Hm, Alhamdulillah sudah selesai dan siap untuk masuk ke tahapan selanjutnya, Buat Gambar alias TA! Yeay! Dan akhirnya segala bentuk perkuliahan pun sudah resmi berakhir, dengan berakhirnya semester ini yang artinya saya bisa rehat sejenak untuk nyiapin mental di TA nanti, dan bisa meluangkan waktu sejenak untuk buat postingan disini! hehe

Anyway, 29 Desember kemarin harusnya jadi 1st Anniversary buat Ar(t)chitecture, So, Happy Anniversary buat Ar(t)chitecture! Mudah-mudahan kedepannya bisa banyak postingan lagi. Pengen sih, nyari author lainnya yang bisa ngisi blog ini biar ngga kosong, tapi yah, masih gratisan, maklum belom bisa menghasilkan. hehe. Ada yang minat? Dan do'a selanjutnya, mudah-mudahan aja di 2nd Anniversary dan seterusnya nanti bisa ngasih hadiah kecil-kecilan untuk pembaca. Thanks buat pembaca semua! kalau dihitung-hitung blog ini udah dibaca lebih dari 7000 kali! Yay!

Okay, enough with the chit-chat, kali ini balik ke topik utama, sesuai dengan judul, ada apa dengan Bangunan & Situs Bersejarah di Sepanjang Krueng Aceh? Jadi, ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah pilihan, Konservasi Arsitektur dan Kawasan. Sesuai dengan namanya, mata kuliah mengajarkan tentang konservasi dan seluk beluknya bagi seorang arsitek. Dengan total 4 tugas, Tugas yang bakalan dipost ini merupakan salah satu tugas akhir yang diselesaikan. jadi, peserta mata kuliah dibagi atas dua kelompok dimana masing-masing kelompok mengajukan judul untuk ditelaah, dan 2 judul pada tugas terakhir adalah :
  1. Arsitektur Jengki di Banda Aceh
  2. Bangunan & Situs Bersejarah di Sepanjang Krueng Aceh

Tugasnya sendiri nanti akan diprentasikan dan didiskusikan di publik selain mahasiswa peserta mata kuliah ini, walaupun pada hari presentasi tidak berjalan maksimal karena kurangnya koordinasi, akhirnya presentasi dilaksanakan juga, pada hari Selasa, 17 Januari 2012, Bertempat di 3 in 1 Coffehouse, Lampinenung mulai dari pukul 14.00 WIB s/d selesai. Walaupun tidak begitu ramai, ruangan VIP yang digunakan untuk presentasi ini berkapasitas hingga 20-an orang, dan terasa penuh pada hari itu.

Lokasi Presentasi & Diskusi, VIP Room, 3in1 Coffehouse
Salah satu produk yang dihasilkan dari kelompok saya, Bangunan & Situs Bersejarah di Sepanjang Krueng Aceh, adalah sebuah Peta, yang menggambarkan lokasi-lokasi yang Bangunan & Situs Bersejarah di Sepanjang Krueng Aceh, berikut dengan info singkat mengenai bangunan tersebut. Teman-teman bisa klik gambar dibawah ini untuk mendapatkan format digital dari peta tersebut (dalam bentuk resolusi tinggi). Mudah-mudah bisa membantu teman-teman yang membutuhkan informasi ini :)

Halaman Depan
Halaman Belakang
Sebenarnya ada produk lain berupa Video dokumenter singkat mengenai Bangunan & Situs Bersejarah di Sepanjang Krueng Aceh, kira-kira kalau saya upload, bakalan ada yang lihat tidak ya? ;)

Anyway, that's it for today's post!
Terimakasih banyak kepada Ibu Sylvia Agustina, ST. MUP selaku dosen koordinator mata kuliah ini yang sudah membimbing saya dan teman-teman. Terima kasih juga kepada Tamu yang hadir pada presentasi dan diskusi kemarin, Bapak Masdar Djamaluddin, ST. Ibu Irin Caisarina, ST. M.Sc, Bang Donny Arief ST, MT, Bapak Surya Bermansyah, dan teman-teman yang lainnya yang ikut hadir meramaikan.

Terima kasih juga buat rekan-rekan satu kelompok,
- Siti Maghfirah
- Ika Dara Safira
- Siti Zuraida Hanum, dan
- Agus Rinaldi.

continue reading

Tuesday, August 23, 2011

Masjid "Tempurung" Padang Tiji

Pernah suatu ketika saat mata kuliah Fisika Bangunan dengan materi Akustik dalam Bangunan, Dosen menyinggung sebuah Masjid dibilangan Padang Tiji, Pidie, Aceh yang bentuknya unik. Karena materi yang disampaikan oleh Dosen merupakan materi yang bersifat keakustikan, maka unik yang dimaksud disini juga dari segi akustik yah.
Inside the Dome
Emangnya Unik gimana ya? Well, coba aja liat fotonya, Masjid ini punya kubah yang gede banget yang menutupi seluruh bidang bangunan sehingga terlihat seperti setengah bola. Masyarakat setempat sendiri menamakan masjid ini sebagai Masjid "Tempurung" (dan masyarakat setempat punya julukan sendiri mengenai Masjid ini dalam bahasa Aceh, tapi saya lupa apa sebutannya). Nah, Dari segi struktural juga unik karena Masjid ini tidak memiliki kolom-kolom struktur yang menopang kubah tersebut, kolom-kolom yang ada di dalam masjid (spertinya) hanya menopang lantai 2 bagian dalam masjid ini.
Karena saya sendiri mengunjungi masjid ini pada pukul 1/2 5 sore yang artinya tidak ada aktifitas solat berjamaah yang menggunakan sound system, saya jadi tidak bisa merasakan akustik suara yang ada dimasjid, Well, Next time, Maybe?
Masjid "Tempurung"
18 Agustus 2011
Masjid Raudhatul Rahman
Padang Tiji
Pidie
Aceh

continue reading

Sunday, July 17, 2011

Museum Tsunami, The New Icon of Banda Aceh!

Minggu, 26 Desember 2004 lalu menjadi sebuah tanggal bersejarah yang memilukan bagi seluruh dunia, khususnya Aceh. Pada hari itu, telah terjadi sebuah bencana besar yang menimbulkan korban yang banyak, sebuah bencana Gempa Bumi dan gelombang Tsunami terjadi saat itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, secara berangsur kondisi Aceh mulai membaik, apalagi dibidang infrastruktur. Dan salah satu bangunan yang dibangun selama masa rekonstruksi dan rehabilitasi adalah sebuah Museum Tsunami yang dibangun untuk mengenang peristiwa tersebut sekaligus menjadi informasi penting kedepannya. Tak hanya itu, Museum Tsunami juga bisa menjadi Bangunan Penyelamat (Escape Building) sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh Ridwan Kamil, Sang Arsitek yang berhasil memenangkan Sayembara Desain Museum Tsunami Aceh 2007 lalu.

Apa yang begitu spesial dari Museum Tsunami? Saat kita masih kecil, mungkin yang ada di pikiran kita saat diajak ke Museum adalah sesuatu yang membosankan, tapi jika Anda berkunjung ke Museum Tsunami, bisa dipastikan mindset kita selama ini benar-benar sudah out-of-date dan perlu di refresh. Ya, jika Anda berkunjung ke Museum Tsunami, saya jamin Anda akan merasakan kesan yang berbeda, seperti apa? we'll see then...

Jembatan Perdamaian
30 Juni 2011 lalu, Saya dan beberapa teman sekampus berencana untuk ber-Arsitektour, atau bahasa kerennya mempelajari pengalaman meruang (layaknya mempraktekkan teori-teori di kampus) ke Museum Tsunami. Ini bukan pertama kalinya bagi saya melihat wujud bangunan megah tersebut, tapi walaupun sering berlalu lalang, ini merupakan kali pertama bagi saya untuk masuk dan merasakan langsung Museum Tsunami tersebut.

Masuk tanpa dikenakan biaya alias Free!, rasanya Museum Tsunami benar-benar menjadi tempat rekreasi baru bagi Warga Banda Aceh khususnya, dan siapa saja yang ingin mengunjungi salah satu icon kota Banda Aceh tersebut. Apalagi di tahun 2011 ini merupakan Visit Banda Aceh Year yang menjadikan Museum Tsunami sebagai salah satu objek pariwisata. Rasanya Aceh Tourism tidak terasa begitu berkesan jika Anda belum masuk kedalam Museum Tsunami.

Apa saja sih yang ada di Museum Tsunami?

1. Selamat datang di Museum Tsunami, pertama kali masuk kedalam Museum tersebut, anda berada dalam Lobby megah yang lengkap dengan relief peta dunia keemasan yang ada didepan Anda, Selanjutnya ada dua jalur yang bisa anda pilih, naik menuju Lounge/Ruang Duduk, atau masuk menuju lorong yang gelap untuk mengikuti alur cerita yang telah di set sang Sutradara alias si Arsitek. Saya sendiri memilih untuk mengikuti alur, Masuk menuju lorong gelap...

2. Lorong Tsunami, sebut saja namanya begitu. Sebuah lorong yang melingkar ini sempit, dan Anda akan mendapatkan kesan yang Gelap dan Kelam, karena disana juga ada rintik-rintik air serta alunan suara merdu yang melantunkan ayat-ayat Suci Al-Qur'an. Mengapa melingkar? jalur melingkar membuat kita tidak bisa menebak apa yang ada diujung sana, dan setelah sampai diujung, seringkali Anda akan surprise dengan yang Anda temukan selanjutnya,

3. Yaitu Memoriam Hall, sebuah ruangan gelap dengan pilar-pilar yang menyerupai bebatuan saat Tsunami. Mengapa begitu gelap? karena kalau Anda memperhatikan dengan detil, cahaya yang masuk keruangan itu berasal dari Cahaya di atas kolam. Ya, Ruangan ini tepat berada dibawah kolam yang berada di Teras Museum. Pada replikan bebatuan yang berada di Memoriam Hall ini, terdapat monitor-monitor yang menampilkan foto-foto saat Bencana Tsunami terjadi. 

4. Lanjut ke scene berikutnya, ada Chamber of Blessing, ruangan ini merupakan cerobong museum yang kita liat dari luar, didalamnya kita bisa melihat nama-nama korban yang dipajang didinding, dan dipuncak menara, kita melihat tulisan Allah dalam bahasa Arab. Dalam ruangan ini kita juga akan mendengarkan lantunan ayat-ayat Suci Al-Qur'an.

5. Selesai dari Chamber of Blessing, kita akan berjalan melingkar dan akhirnya menuju Jembatan Perdamaian, melintasi Kolam dan diatas kita bisa melihat berbagai macam ungkapan "Damai" yang tertulis dari berbagai macam negara.

6. Selesai sudah babak pertama dari script yang ditawarkan oleh si Arsitek, selanjutnya Anda pastilah sudah berada di lantai 2, dan bisa menikmati sajian lainnya, diantaranya:

- Ruang Panel Informasi, yang menginformasikan mengenai kejadian Pra dan Pasca Tsunami, hingga proses rehabilitasi yang ada di Aceh.

- Ruang Diorama dengan berbagai macam miniatur dan replika kondisi Aceh saat Tsunami

- Ruang Pamer yang memamerkan berbagai macam peninggalan Tsunami seperti Sepeda Motor, hingga Jam Dinding yang Jarumnya menunjukkan waktu datangnya Air Tsunami.

- Ruang peraga yang didalamnya terdapat berbagai macam alat peraga mengenai Gempa Bumi, Tsunami, hingga "Kamar Goyang". Kamar goyang merupakan sebuah replika kamar ukuran 3 x 3 meter yang mengalami gempa bumi, sehingga Anda dapat merasakan getaran gempa jika masuk kedalam kamar tersebut.

- Perpustakaan tempat menyimpan buku-buku informasi mengenai Aceh hingga Gempa bumi dan Tsunami.

- Ruang Audio Visual sebagai ruang multimedia bagi dokumenter bencana Gempa dan Tsunami

- Theater 4D yang menggabungkan unsur audio visual dan indra peraba Anda sehingga menonton video Tsunami menjadikannya lebih nyata saat Anda menontonnya.

Jika Anda sudah merasakan semua fasilitas diatas, berarti selesai sudah menjelajahi isi dalam dari Museum Tsunami.
Sepeda Motor yang menjadi saksi bisu Bencana Gempa Bumi dan Tsunami

Replika Kapal Apung saat terhempas gelombang Tsunami hingga ke Punge

Panel-Panel Informasi dengan Interior yang menggambarkan bebatuan
Ruang Audio Visual

Keluar dari Museum Tsunami, Anda masih bisa merasakan atmosfer kenyamanan yang ada disana, mulai dari Kolam yang bisa dijadikan untuk berelaksasi sambil menikmati makanan-makanan ringan yang ada di Resto Outdoor. Selain itu juga terdapat Amphiteater yang bisa dimanfaatkan untuk event tertentu, seperti Resital Piano yang baru-baru ini diadakan disana.

Museum Tsunami merupakan salah satu aset penting dan ramai dikunjungi oleh banyak orang dalam Rangka Visit Banda Aceh Year 2011, minggu lalu juga diadakan beberapa seminar dan pameran di Museum Tsunami. Untuk kedepannya diharapkan Museum Tsunami dapat dimanfaatkan secara baik oleh warga Aceh dan dimaintain secara baik pula oleh pihak manajerial. Untuk mendukung Visit Aceh year di tahun-tahun mendatang. Yuk dukung Wisata Aceh! :)

continue reading

Thursday, June 30, 2011

Kunjungan ke Desa Nusa di Lhoknga (Part 2)

World Migratory Bird Day 2011
Sunday, 15 May 2011
Place: Gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar.






So, What's the story while I'm Gone? Semester baru aja berakhir dan ar(t)chitecture beneran sepi kayak kuburan. Supaya rame dikit, Saya post beberapa  foto dari event WMBD 2011 ya, storiesnya menyusul! :D

continue reading

Sunday, May 15, 2011

Kunjungan ke Desa Nusa di Lhoknga (Part 1)


Sabtu, 16 April 2011 kemarin, Saya beserta teman-teman peserta mata kuliah Sustainable Architecture, bermaksud untuk mengunjungi sebuah Desa yang sedang menerapkan program-program yang menuju kepada Sustainable Village, Yaitu Desa Nusa yang berada di Jalan Banda Aceh - Meulaboh km. 9.5 Lhoknga, Aceh Besar. Bersama Dosen, Ibu Hilda Mufiaty dan Bapak Zulfikar Taqiuddin, kunjungan kali ini bukanlah Wisata Aceh yang sedang digalakkan oleh pemda yang sedang berkampanye untuk program Visit Banda Aceh (Visit Banda Aceh 2011), melainkan sebuah kunjungan praktek untuk melihat langsung kiprah para pegiat peduli lingkungan, yang selama ini hanya kami dapatkan lewat teori di mata kuliah Sustainable Architecture.

continue reading

Monday, January 17, 2011

Masjid Teungku Di Anjong


Pernahkah Anda ke daerah Gampong Pandee di Kecamatan Kutaraja? Menurut wawancara singkat dengan warga setempat, Kawasan ini merupakan lokasi Istana Raja dan Pelabuhan Internasional, dimana pada 1926 Istana dipindahkan dari Gampong Pandee ke Daruddunia, lokasi keratin sekarang, atau 6 km dari Muara Krueng Aceh) karena gelombang laut. Pada Desember 2004 lalu atau tepatnya pada bencana Gempa Bumi dan Tsunami 26 Desember lalu, gelombang juga pecah atau terhenti di lokasi ini.

"Tugu yang menandakan kalau daerah ini pernah mengalami musibah Tsunami"

Apa yang menarik di kawasan ini? Ada sebuah komplek warisan yang sebenarnya patut kita lestarikan. Komplek itu terdiri dari sebuah Masjid tua berikut Makam dari sang tokoh. Sayyid Abubakar bin Husen Bafaqih, beliau merupakan seorang ulama dari negeri Arab yang mengembara untuk mendakwahkan Islam, Oleh sebab itulah beliau mendapatkan gelar Teungku di Anjong dan dianggap sebagai Orang Keramat. Begitulah kira-kira pesan yang tertulis di prasasti yang terdapat di depan bangunan makam beliau. Beliaulah yang mendirikan Masjid Tengku di Anjong ini pada abad ke 18, dan disebelah kiri Masjid tersebut, terdapat bangunan Makam beliau dan juga istrinya.

Bangunan Masjid ini dulunya adalah sebuah Masjid yang bermaterial Kayu, namun seiring dengan perkembangan zaman, sekiranya material-material kayu tersebut dirasa sudah tidak layak lagi untuk menopang bangunan Masjid tersebut sehingga pada 2009 lalu telah resmi ‘menjelma’ menjadi bangunan Masjid baru yang bermaterial bata. Ironis memang, tapi renovasi ini lebih baik bukan? Pastinya renovasi ini jauh lebih baik daripada membiarkan bangunan bersejarah ini hancur dan roboh. Satu hal yang dipertahankan dari renovasi ini yaitu bentuk asli masjid yang tidak berubah walaupun telah berganti material. Ya, bentuk khas ala masjid-masjid Jawa dengan bentuk atap yang bertingkat-tingkat ini masih tetap dipertahankan pada renovasi Masjid ini.

Dominasi warna putih yang digunakan untuk Masjid ini ditambah dengan kombinasi hijau yang digunakan untuk warna atap dan kusen serta jendelanya membuat Masjid ini jadi terasa seperti masjid yang benar-benar baru. Padahal kita tau kalau masjid ini sejatinya dibangun pada abad ke 18. Satu-satunya kesan antik yang ditimbulkan dari komplek ini hanya bangunan makam dan juga pemakaman yang ada di komplek tersebut.

"Bangunan Makam yang berada tepat disamping Masjid"


"Pemakaman yang berada di kompleks Masjid"

Balutan batu alam juga menghiasi kolom-kolom teras di Masjid ini, Kolom-kolom putih yang ada pada bagian dalam Masjid ini tampak begitu kokoh dengan tambahan-tambahan ornament khas yang ada pada bagian bawahnya. Menurut saya, kolom ini juga baru karena kolom yang lama pastilah terbuat dari kayu. Tapi narasumber yang saya wawancara juga kurang mengetahui jelasnya proses perubahan masjid ini. Pada bagian dalam mesjid, pada bagian kiri dan kanannya sedikit rendah karena plafon yang miring,

Sebenarnya ingin saya melihat bangunan asli dari masjid ini, bangunan yang masih bermaterial kayu yang menutupi seluruh bangunan ini, hanya sebagai perbandingan dari 2 masa berbeda yang pernah ditempuh dari masjid ini. Sebuah saksi sejarah pada masa berkembangnya Islam di bumi Serambi Mekkah.

"Tugas Apresiasi Arsitektur"

continue reading

Thursday, December 30, 2010

China Town 'Pecinan' Peunayong Banda Aceh

China Town 'Pecinan' Peunayong (Sumber : http://www.lestariheritage.net/aceh/support/sites21a.jpg)
Posisi Aceh yang berada du ujung barat Indonesia serta berada diujung pulau menjadi sebuah cerita tersendiri. Salah satunya menjadi tempat persinggahan bagi mereka yang melintas. Kebanyakan dari mereka yang melintas merupakan pedagang-pedagang dari negeri seberang yang datang untuk menjajakan dagangannya, melakukan transaksi barter, hingga melakukan kerjasama dengan penduduk lokal. Kondisi ini merupakan hal yang terjadi bukan saat sekarang dimana internet sudah menjadi kebutuhan, melainkan hal yang anda temui pada masa lampau.
Ya, kebanyakan dari mereka yang datang, merupakan orang timur, datang dari Jepang, Korea, Taiwan, China, dan negara timiur disekitarnya. Mereka yang singgah di ujung pelabuhan Aceh ini melaksanakan transaksi jual-beli disana. Peunayong, merupakan nama daerah itu. daerah yang dijadikan tempat transaksi bagi mereka.
Sedikit melihat kebelakang, keberadaan para pendatang ini di Bumi Aceh memang sudah lama. Tapi semua ini tidak lepas dari campur tangan Belanda yang membangun Jembatan Peunayong (yang menghubungkan Peunayong dengan Pasar Aceh) yang rendah sehingga kapal - kapal tidak dapat berjalan lagi sehingga menyebabkan matinya perdagangan di daerah itu. Perdagangan yang biasanya terjadi di kapal atau di sungai, kini "mencari" lokasi baru, maka, daratan disekitar krueng dan Jembatan menjadi pilihan.
Kalau ditilik lebih dalam mengenai hubungan etnis Tionghoa dengan Aceh, Menurut sebuah Karya Tulis yang pernah diunggah oleh Balai Arkeologi Medan, ternyata pada 1282 M, diketahui bahwa Raja Samudra Pasai mengirim 2 orang utusan (Sulaiman dan Syamsudin) ke negeri China. Diduga inilah awal mula hubungan antara Tionghoa & Aceh, dimana setelah itu, Aceh dan Tionghoa sering melakukan kunjungan ke China dan sebaliknya, yang berujung pada kondisi seperti sekarang ini.
Kelanjutan dari proses sebelumnya, Kaum tionghoa lalu mulai menetap di Aceh & membangun deretan Ruko typical bergaya China-Colonial yang selanjutnya menjadi tempat bagi aktivitas Jual-Beli. Ruko-ruko yang ada dikawasan itu dipergunakan sebagai toko pada lantai pertama dan pada lantai dua digunakan sebagai tempat tinggal. Kawasan ini sering juga disebut Pecinan atau China Town layaknya China Town yang ada di Amerika, Kanada, maupun negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Penang Malaysia, dan lainnya. Hanya saja Pecinan didaerah kita hanyalah sebatas nama karena dari segi penampilan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan China Town yang ada di negara-negara lain.
China Town 'Pecinan' Peunayong (Sumber : Pribadi)
Sebuah arsitektur yang khas disepanjang jalan Ahmad Yani dan R.A Kartini itu memberi kesan tersendiri pada orang-orang yang melihatnya. Tipe-tipe arcade pada pertokoannya dengan lengkungan, ukiran khas pada bagian tritisan hingga bentuk Jendela yang begitu unik bisa Anda lihat pada daerah Pecinan ini. Sayang, kurangnya perawatan membuat kompleks ruko ini menjadi terabaikan. bahkan beberapa diantaranya sudah tidak digunakan lagi karena kondisinya pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa Banda Aceh pada 26 Desember 2004 silam.
Selain kurangnya perawatan, pemanfaatan yang ada juga begitu minim. Bagaimana tidak, jika saja daerah ini dimanfaatkan sebagai area wisata kuliner pasti akan mendatangkan respon positif bagi para treavellers. Memang, Jalan Ahmad Yani kini telah digunakan sebagai area kuliner yang dikenal dengan 'Rex' dimana mulai dari petang hingga malam, jalanan ditutup dan dan dipergunakan sebagai area makan dengan gerobak-gerobak khas berbagai jenis makan siap melayani di pinggiran jalannya. Tapi ada baiknya jika daerah ini lebih dimaksimalkan layaknya China Town sesungguhnya.
Little Shanghai, China Town at Penang, Malaysia (Sumber : http://penangonlinedirectory.com/images/CT2.JPG)
China Town 'Pecinan' Peunayong, Banda Aceh, Indonesia (Sumber : http://melayuonline.com/pict/p48f7fedce329e.jpg)

Tugas Mata Kuliah Apresiasi Arsitektur "Arsitektur dipandang dalam Sejarah"

continue reading

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...